Senin, 13 Juni 2011

TEKNIK KOMUNIKASI


TUGAS TEKOM
Tekom atau Teknik  Komunikasi merupakan salah satu mata kuliah pada semester dua Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Undip. Secara umum Teknik Komunikasi merupakan ilmu yang mempelajari tentang cara-cara penyampaian suatu suatu informasi melalui suatu media kepada orang lain atau khalayak. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, setiap manusia dituntut untuk selalu meningkatkan kualitas hidupnya. Hal itu ditopang oleh dua aspek yaitu hard skill berupa akademis dan soft skill berupa komunikasi. Informasi yang disampaikan bukan sekedar sampai kepada penerima namun ada cara-cara tertentu agar penyampaiannya lebih maksimal dan tidak terjadi miss communication. Komunikasii berfungsi untuk transfer pengetahuan dari pengirim kepada penerima, untuk memotivasi orang lain untuk melakukan suatu tindakan atau pekerjaan tertentu, untuk mengontrol tindakan seseorang serta mengekspresikan perasaan dan emosi.

TUBES NYA
Media Komunikasi adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan lawan bicara sehingga dapat mendorong terjadinya proses komunikasi (Yusuf Hadi Miarso, 1995). Mata kuliah Teknik Komunikasi memiliki tugas besar yang bertujuan agar setiap mahasiswa lebih memahami tentang cara-cara penyampaian informasi melalui berbagai macam media. banner , video (film) dan website merupakan media yang dipakai untuk memenuhi tugas besar teknik komunikasi. Dari ketiga media jenis media tersebut diperlukan teknik-teknik khusus agar informasi yang ditangkap mengenai sasaran ditambah nilai estetika agar terlihat lebih menarik. (sumber: buku laporan konsep kelompok 1)
Tubes ini tuh dikumpulin di akhir semester. Tubes yang dikasih ini disuruh bikin film, banner, sama web. Filmnya yang kelompok kami buat ini temanya Wisata Budaya Indonesia yang judulnya Mahakarya Rambut Gimbal dari Dieng, Wonosobo. Di sini kami ingin menguak tentang kisah prosesi rambut gimbal tersebut. agar orang lain itu pun paham dan mengerti bahwa ada warisan budaya yang masih belum terekspos.


KENDALAnyaaa
Haddeeehhh...klo ngomongin kendala sih banyak banget. Mulai dari susah kumpul kelompok, suka dadakan kl ngerjain tugas (karena saking banyaknya tugas yang lain), pas mau shooting pada telat kumpul, kendaraan kurang, menuju tempat shooting ke Gedong Songo ditilang polisi 2x aku sama Baari, jadi ngeluarin duit 50rb, di Gedong Songo masih harus naik lagi..cpe bgt. Pas take beberapa scene banyak kuda yang menghalangi gambar. hahahahahahah
Tapi...senengnya sih kita dapet banyak foto2 disana.Trs aku sendiri yang belum tau Gedong Songo jadi tau tempatnya ternyata tinggi banget>untuk naiknya aja cpek. Lumayan bisa bikin kurus. :D



KESAN-PESAN dan SARAN-KRITIK
Yuuupppp....semuuanya tau kl matkul Tekom ini diampu oleh 2dosen yaitu P.Mardwi dan B. Nurini juga 2asdos yaitu Mb Tias dan Mas dodi. Matkul ini tuh asik banget. Ngga ada uts sama uasnya. heheheeh. Yaaa...soalnya kita emang diajarin spesial untuk gimana caranya berkomunikasi dihadapan orang banyak karena kita ini Planner.
Dosen-dosen udah sabar banget loh ngajarin kita, asdosnya pun sabar banget ngadepin kita yang lagi asistensi buku konsep.hehehehe. Makasih untuk beliau-beliau...mohon maaf bila kami sebagai mahasiswa masih banyak kekurangan. :)
Ilmu yang diberikan di Teknik Komunikasi ini sangat berguna sekali... :)

artikel & powerpoint

Naaaaahhh….ini tuh tugasnya disuruh bikin powerpoint, ceritanya kita presentasiin sesuatu gitu. Dan untuk tugas ini aku ambilnya tema tentang wisata budaya yang ada di Tasikmalaya namanya Kampung Naga. Sebelumnya kita emang disuruh Ibu Nurini (desen Tekom) untuk bikin artikel tentang temanya itu dulu. Dan ini artikelnya……….. :

     FRESKA ILMIAJAYANTI
     21040110120035
     Artikel Wisata Budaya “Kampung Naga”
                                                                                          
Sejenak terlintas dalam pikiran kita barangkali ketika mendengar nama Kampung Naga. Ternyata bentuk asli dari kampung tersebut sangat berbeda dengan namanya, dan gambaran kita tentang hal-hal yang berbau naga, karena tak satupun naga yang berada di sana. Kampung Naga hanyalah sebuah kampung kecil, yang karena para penduduknya patuh dan menjaga tradisi yang ada, membuat kampung ini unik dan berbeda dengan yang lain. Tak salah jika kampung ini menjadi salah satu warisan budaya Bangsa Indonesia yang patut dilestarikan.
Gb. 1 Bentuk Rumah Kampung Naga
Kampung Naga ini berada di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Kampung ini berada di lembah yang subur. Untuk menuju Kampung Naga dari arah jalan raya Garut-Tasikmalaya harus menuruni tangga yang sudah di tembok sampai ke tepi sungai Ciwulan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak kira-kira 500 meter. Kemudian melalui jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan sampai kedalam Kampung Naga.
"Kita semua, masyarakat disini memegang peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh Moyang kita," kata Pak Atang salah satu guide yang menemani rombongan ke Kampung Naga. Walaupun dengan Bahasa Indonesia yang kurang begitu lancar, Pak Atang cukup bersemangat dan hangat memberikan jawaban-jawaban dari pertanyaan yang diajukan peserta rombongan. Pak Atang, adalah salah satu warga Kampung Naga yang harus keluar dari kampung tersebut, karena menikah dengan orang dari luar penduduk Kampung Naga. Begitulah salah satu peraturan yang ada di dalam kampung itu, bahkan ketika terjadi pernikahan antara muda-mudi dari kampung ini bisa jadi pasangan tersebut harus keluar dari Kampung Naga juga jika tidak tersedia tempat tinggal (rumah). Rumah di Kampung Naga jumlahnya selalu dipertahankan, yaitu tidak boleh kurang dan lebih dari 118 bangunan. dari 118 bangunan tersebut, sebanyak 108 bangunan adalah rumah penduduk, sisanya adalah bangunan masjid, ruang pertemuan dan rumah agung ( rumah besar ) yang tidak boleh ditempati oleh siapapun.









Gb. 2 Keadaan lembah Kampung Naga




Penduduk Kampung Naga menganut agama Islam, yang dikombinasikan dengan kebudayaan setempat warisan dari nenek moyang dulu. Jumlah keseluruhan penduduk  sekitar 325 orang, sebagian besar bertani dan berternak ikan. Tanaman pertanian yang ditanam biasanya adalah padi, jagung, sayur-sayuran dan apotik hidup. Tanah di kampung ini tergolong sangat subur, karena tekstur tanah yang miring, kemudian dibatasi oleh sungai, dan diapit oleh bukit - bukit yang lumayan terjal. Karena terletak di wilayah pegunungan, kondisi cuaca juga sangat membantu para petani di kampung ini, semua tanaman yang ditanam dapat tumbuh subur. Di belakang rumah penduduk,  terdapat kolam-kolam ikan, berisi ikan lele, ikan mas dan ikan gurame, yang setiap waktu siap dipanen dan memberikan penghasilan lumayan buat para penduduk.
Keunikan dari rumah-rumah di Kampung Naga adalah semuanya beratap ijuk, dan menghadap ke arah kiblat. Letaknya berjajar dari atas ke bawah, hingga dari jauh terlihat putih dan hitam yang bertumpuk bagaikan tanaman jamur yang tumbuh subur. Kesuburan dan kedamaian memang sangat terasa ketika kita mulai menuruni tangga menuju kampung tersebut. Sebanyak 360 tangga harus kita lalui untuk menuju Kampung Naga ini, turunannya cukup tajam, sehingga kalau hujan saat turun kita harus cukup berhati-hati kalau tidak mau terpeleset dan jatuh ke jurang-jurang yang ada dibawahnya. Ketika menuruni tangga, sejauh mata memandang adalah sawah teras siring yang menghijau, sungai jernih melintas dan melingkar dibawahnya, terasa damai sekali. Sesekali gemercik air itu terdengar, diselingi oleh tiupan angin yang menusuk hati, sepertinya mengajak kita untuk merenung dan kembali ke masa lalu. Ketika berpapasan dengan penduduk setempat, mereka juga selalu melempar senyum kepada para tamu dan mengucapkan salam. Sepertinya tidak ada rasa keberatan dari mereka untuk dikunjungi, tapi sebagai tamu kita harus selalu menjaga kesopanan dan mentaati peraturan yang berlaku.
Tidak boleh berkata sembarangan, mematahkan ranting-ranting pohon, atau menganggu hewan-hewan yang ada disekitar adalah kearifan lokal yang harus dipatuhi oleh para pengunjung. Seperti dikatakan Pak Atang, "Di seberang sungai adalah hutan larangan, siapapun tidak boleh mengambil ranting pohon apalagi menebang pohon, bisa dikenai sangsi adat,".  Logikanya adalah jika pohon-pohon tersebut ditebang tentunya sangat berbahaya, kemungkinan longsor dan banjir karena tekstur tanah yang miring, juga bisa terjadi putusnya rantai kehidupan di wilayah tersebut. Dari sisi lain kampung ini, yang berfungsi sebagai pembatas wilayah adalah adanya dua air terjun kecil dari atas bukit, yang berfungsi sebagai pengairan pada musim kemarau, dan mencegah erosi secara langsung dari bukit-bukit yang berada diatasnya. Cerita lain dari keajaiban air terjun tersebut adalah, kita tidak diperbolehkan mandi di air terjun tersebut ketika menjelang waktu maghrib, pasti akan kesurupan, boleh percaya atau tidak.









Gb. 3 Jalan Setapak di Kampung Naga




Ketika ada tamu datang, beberapa penduduk dewasa dan tua keluar dari rumah dan melihat rombongan, kebanyakan dari mereka tidak bisa berbahasa Indonesia. Dari keterangan Pak Atang, guide kami, mereka bertanya pada Pak Atang," selamat datang dan menanyakan rombongan dari berasaal dari mana," dalam bahasa sunda. Sore itu ketika rombongan kami datang, banyak para penduduk yang sedang menganyam kerajinan tangan. Hasil kerajinan tangan penduduk kampung ini, telah dijual ke berbagai kota di Indonesia, bahkan ke luar negeri, karena setiap hari ada saja wisatawan manca negara yang berkunjung ke sini. Lebih asyik lagi, para pengunjung juga diperbolehkan menginap di kampung tersebut untuk ikut menyelami kehidupan masyarakat Kampung Naga. Kita akan diajak kembali kepada kehidupan masa lalu, yang betul-betul asli. Bayangkan, listrik tidak boleh masuk ditempat ini, karena ditakutkan akan terjadi hubungan pendek dan bisa menimbulkan kebakaran. Kalau malam hari hanya pakai lampu teplok, sehingga kehidupan malam betul-betul terasa sepi dan meredup, terasa damai dalam hati.
Namun sayang, ditengah ketatnya aturan adat, ternyata para penduduk diperbolehkan untuk memiliki tv dengan mempergunakan tenaga accu. Hal ini tentu kontradiktif dan sangat berbahaya, karena media komunikasi tv malah bisa meruntuhkan kearifan lokal penduduk setempat. Disamping itu, pintu masuk Kampung Naga, juga sudah terkontaminasi dengan budaya-budaya dari luar yang kurang bagus. Terbukti waktu rombongan selesai berkunjung, kemudian ditempat parkir kita berhenti dan beristirahat di warung sekitar tempat parkir mobil. Ternyata pemilik warung tersebut, menghibur para pengunjung dengan lagu disco dan rock barat, terasa agak aneh memang. Karena tak jauh dari situ adalah sekumpulan penduduk yang ketat dalam menjaga aturan Nenek Moyang, dan di shelter terakhir tempat masuk dan keluar penduduk Kampung Naga kita akan disuguhi berbagai hal yang berhubungan dengan globalisasi. Akses yang sangat mudah ke Kampung Naga ini, karena berada ditepi jalan raya utama antara Garut dan Tasikmalaya juga menjadi ancaman lain terhadap keunikan dan kelestarian kampung  adat ini. Untuk itu masyarakat setempat, pemda dan seluruh pihak terkait harus menjaga salah satu kekayaan budaya Bangsa Indonesia ini.

Sumber:
AMG. 2008. “Informasi Wisata Budaya”, http://www.navigasi.net/goart.php?a=bukmpnag . Diunduh Senin, 4April 2011 pukul 21.43.

Ini Powerpointnya nyaaaaaaa……. J






2.

3.

4.
.

5.

6. 

7. 

8.

Minggu, 12 Juni 2011

desain poster individu

poster bertema bebas ini tugas pertama dari salah satu dosen tekom, P. Mardwi. Poster individu yang saya buat ini bertema penataan kota.yaaa...soalnya kan kita planner.hehehhe
dibuat memakai photoshop dgn pengeditan --> diprintout --> dikumpulin ke beliau.